BAHAN NGOBROL

Gerakan 1000 Startup Digital, Aksi Penuh Solusi.

Digital Startup di Indonesia masih belum memiliki ekosistem yang cukup besar, untuk itu Kibar bersama Menkominfo dan badan Ekonomi Kreatif menggelar Gerakan 1000 Startup Digital yang acaranya dimulai dengan Ignition, Workshop, Hackathon, Bootcamp dan yang terakhir adalah Incubation.

Saya mengikuti Ignition kedua Jakarta yang berlangsung pada hari Minggu 28 Agustus 2016. Dalam pembukannya kami langsung disuguhi dengan penjabaran dan cita-cita yuang dibawa oleh gerakan ini. Sebagai tambahan bapak Triawan Munaf dan bapak Yansem Kamto menjelaskan tentang tujuan Ekonomi Kreatif, 16 sektor kedeputian yang ada di badan Ekonomi Kreatif, dan yang terakhir adalah evolusi budaya yang mengangkat local wisdom Indonesia, melalui sebuah bentuk sederhana seperti tari Kecak yang ternyata merupakan ciptaan Wayan Limbak dan seorang pelukis Jerman, Walter Spies. Walter Spie yang juga merupakan tokoh modernisasi seni budaya Jawa dan Bali, memikirkan sebuah skema pertunjukan yang memperkaya tarian Indonesia sekaligus mendayagunakan tenaga-tenaga lokal yang bertalenta.

p_20160828_135444

Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi The Startup Journey yang dibawakan oleh Andreas Senjaya yang merupakan CEO iGrow. Melalui pengalaman beliau kami diajak untuk menyelami berbagai kemungkinan startup yang berangkat dari local wisdom, yang bisa menyelesaikan banyak masalah, sekaligus scalable. Selain itu beliau juga mengajarkan pentingnya memiliki Domain Expert yang menjadi modal dasar dalam sebuah startup. Tentunya setelah menyadari Domain Expert yang dimiliki, kita harus memiliki tim dengan Domain Expert yang berbeda-beda sehingga saling melengkapi. Dari pemikiran beliau ini, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan pivot dalam pekerjaan saya yang sebelumnya merupakan Community Manager, berubah menjadi Content Maker dan Marketing. Mengapa? Karena kedua domain tersebut adalah domain expert saya yang sempat hilang tertelan kebutuhan hidup. Saya kembali menemukan kedua domain tersebut ketika melihat lingkup pekerjaan saya dalam sudut padang yang lebih luas.

Selain mengungkap tentang local wisdom dan startup yang scalable, Andreas Senjaya juga menjelaskan berbagai tantangan yang harus dihadapi para pembuat startup. Tantangan yang paling berat datang dari diri sendiri dan validasi ide yang berujung pada kemampuan startup untuk berdiri sendiri atau sustainable.

Di sesi berikutnya kami diajak untuk berpikir layaknya seorang founder melalui sesi Think Like a Founder. Di sini kami dipertemukan dengan Indrasto Budisantoso CEO Jojonomic dan M Yukka Harlanda CEO Bro.do. Dari kedua orang ini saya mendapatkan banyak masukan menarik seperti gagalah cepat dan gagalah sering. Jangan lupa untuk melakukan pivot atau pergantian tipe atau fitur, ketika sebuah startup dianggap tidak bisa sustain atau idenya kurang bisa diterima. Rasanya kok seperti yang baru saja terjadi dalam hidup saya. Di mana sebelumnya saya bekerja pada sektor hiburan secara sporadis dan tanpa tujuan, kini saya bergerak ke sektor kesehatan dan kemanusian demi menunjang cita-cita startup saya yang ingin memudahkan penanganan bencana di Indonesia.

p_20160828_145554

Selain masukan yang di atas, ada satu kalimat dari M Yukka Harlanda yang nyantol banget di dalam visi dan misi saya. Beliau menyatakan kalau, “semua bisa berangkat dari masalah kecil, seperti bro.do misalnya. Bro.do berangkat dari masalah kaki saya yang jarang ada ukurannya di Indonesia.” Ngomong-ngomong, sepatu saya ukurannya 48 dan enggak ada di bro.do (T_T). Apakah saya harus membuat bro.do Perjuangan?

Sesi berikutnya adalah, Making Social Impact with Technology. Di sesi ini kami disuguhi dua orang CEO, yang pertama adalah Tyovan Ari Widagdo, CEO bahaso.com dan M Alfatih Timur, CEO kitabisa.com. Untuk M Alfatih Timur, nama beliau mecuat setelah campaign Rio Haryanto dengan F1-nya dan campaign masjid di Jepang (Chiba). Dari kedua orang ini, kami banyak belajar bagaimana sebuah startup atau ide sederhana memberikan dampak sosial yang besar, terutama melalui teknologi. Dari CEO bahaso kita mengetahu kalau ternyata aplikasi tersebut digunakan oleh beberapa TKI dan TKW untuk belajar bahasa asing dan dari CEO kitabisa, kami jadi mengetahui kalau kegiatan fund rising itu tetap membutuhkan biaya dan orang-orang yang bergerak di belakangnya harus tetap mendapatkan sokongan dana.

kiprah-rio-haryanto-di-f1-disindir-pembalap-belanda-stc

Lebih jauh, M Alfatih Timur menejelaskan kalau di negara lain upaya urunan seperti kitabisa.com, jauh lebih populer dari crowd funding sejenis kickstarter atau indiegogo. Karena sejatinya kita sebagai mahluk sosial sudah terbiasa dengan yang namanya saling membantu satu sama lain. Dengan adanya teknologi proses tersebut dipermudah.

Di sesi keempat kami dipertemukan dengan saudara Henky Prihatna yang merupakan Indonesia Country Consultant di Google. Dari beliau kami mendapatkan pelajaran 9 Notion of Innovation.

p_20160828_180514

Kesembilan notion atau prinsip tersebut adalah:

1. Innovation, not instant perfection
2. A healthy disregard for the impossible
3. Focus on user
4. Share everything you know
5. Data not opinions
6. Ideas come from everywhere
7. You’re brilliant, we’re hiring
8. Invest and Grow Talent
9. Give people a license to pursue dreams

#1. Innovation, not instant perfection.

Google memiliki kebiasaan untuk merilis sebuah produk dalam waktu 6 minggu development cycle. Dua minggu untuk merencanakan produk, dua minggu lainnya untuk membangun produk tersebut dan dua minggu yang tersisa untuk melakukan tes dan meluncurkannya. Kenapa ini bisa terjadi? Karena Google membiasakan setiap tim untuk sangat cepat dalam mengambil segala keputusan. Keindahan yang timbul dari metode ini adalah, Google tidak akan pernah jauh dari market dan market akan selalu merespond setiap produk yang Google luncurkan.

#2. A healthy disregard for the impossible

Berpikilah 10x lipat, bukan 10% seperti layaknya perusahaan lain.  Bila kita hanya menarget peningkatan 10%, kita akan meniru langkah perusahaan lain. Memang bila kita gagal, efeknya tidak akan sampai ke mana-mana, tetapi jangan pernah bermimpi untuk sukses besar hanya dengan 10% saja. Hal ini sangat ditunjukkan oleh Google melalu proyek-proyeknya, seperti misalnya Google Glass, Self Driving Car, Project Ara dan banyak lagi.

#3. Focus on the User

Focus on the user and money will follow. Notion yang satu ini sudah menjadi cita-cita saya pribadi. Dari dulu kala, ketika saya membaca komik Zenpencils #98 – Alan Watts – What if Money was no object. Di sini Google percaya kalau mereka fokus pada pengguna dan mengabaikan sisi kompetisi, uang akan datang dengan sendirinya. Kemenangan adalah momen yang sangat penting. Untuk itu Google akan menunjukkan keajaibannya pada pengguna/usernya. So? What do you desire?

#4. Share Everything You Know

Berbeda dengan kebanyakan perusahaan di Indonesia, Google menerapkan sistem penyebaran informasi selengkap-lengkapnya. Hal ini menyebabkan inovasi mereka tidak pernah berhenti, karena mereka yakin kalau di luar sana selalu ada ilmu baru yang belum mereka dapatkan. Untuk itu mereka selalu menyediakan data-data pekerjaan yang dilakukan setiap pegawainya agar tidak ada duplikasi dan memancing munculnya kolaborasi.

#5. Data Not Opinions

Di Google data adalah segalanya, kurang lebih mirip dengan kata-kata mutiara yang saya temukan di kantor Kibar “Asumsi Itu Membunuh”. Pada intinya Google bekerja berdasarkan data, melakukan tes terus-menurus, sehingga tidak memerlukan brute force untuk menembus pasar.

Sebagai contoh, banyak perusahaan yang berpikir kalau desain adalah bagian dari seni. Bagi Google, desain adalah sebuah sains. Di dalamnya mereka bisa mendapatkan banyak data yang bisa diterapkan tanpa mempermasalah selera atau estetika pemilik perusahaan atau sang desainer.

#6. Ideas Come From Everywhere

Google memiliki pooling internal yang berisikan ide-ide banyak orang. Setiap staff Google bisa melakukan voting untuk ide-ide tersebut untuk melihat ide siapa paling baik. Dari situ munculah berbagai ide yang bisa dikembangkan oleh Google hingga akhirnya menjadi produk jadi.

7. You’re Brilliant, We’re Hiring

Di sini Google menunjukkan cara untuk selalu melakukan berbagai inovasi. Mereka akan terus menarik perhatian para entrepreneur yang berani mengeluarkan ide-ide bisnis mereka dalam satu bulan dan diluncurkan dalam waktu enam bulan.

Untuk memudahkan proses ini mereka Google menyediakan berbagai teknologi yang akan menyokong orang-orang brilian ini. Sebagai contoh, mereka menyediakan Google AdSense untuk Monetize, Google Account untuk database, Google Checkout untuk billing, Google Duo untuk berkomunikasi dan banyak lagi.

#8. Invest and Grow Talent

Untuk yang satu ini saya jadi ingat dengan anekdot lawas CFO dan CEO yang waktu itu sempat popular di media sosial.

Pada intinya begini. Apa yang terjadi bila kita melatih pegawai kita dan pada ujung-ujungnya mereka meninggalkan kantor ini. Tapi apa yang bakal terjadi kalau kita tidak melatih mereka tetapi mereka malah tetap berada di kantor ini.

08939f8

Yup, hal yang sama juga dihadapi Google, tetapi mereka lebih memilih untuk mengembangkan kemampuan setiap anggotanya untuk kemajuan perusahaan mereka juga.

9. Give People a License to Pursue Dreams

Di Google, mereka punya pola pekerjaan 70 20 10. 70% adalah waktu yang digunakan untuk mengerjakan proyek utama. 20% berikutnya adalah waktu yang dipakai untuk mengerjakan proyek-proyek yang menunjang proyek/produk utama. 10% yang tersisa adalah waktu yang diberikan Google untuk mengerjakan proyek/produk yang disukai atau mendapatkan kemampuan baru. Pada intinya Google mendapatkan banyak ide produk dari 10% itu dan Google tidak melarang para pekerjanya mengejar impian mereka.

Di sesi terakhir kami disuguhi How to Scale Your Startup. Pembicara kali ini adalah Hanifa Ambadar, CEO Female Daily dan Peter Shearer, CEO AR&Co. Dari keduanya kami belajar bagaimana sebuah startup dimulai dari hal kecil seperti blog yang semula berupa kegiatan iseng-iseng seorang Hanifa Ambadar.

p_20160828_175734

Kedua startup di atas, langsung memiliki cashflow positif dan berbagai target yang menunjukkan kalau startup mereka sudah scalable. Target-target mereka adalah, target sales, target produk dan target inovasi. Selain itu senada dengan Andreas Senjaya, mbak Hanifa Ambadar menekankan para startup untuk mengetahui kekuatan mereka atau domain terkuat yang mereka miliki. Untuk itu beliau menutup berbagai domain yang sebelumnya beliau miliki agar lebih fokus pada Female Daily. Di sisi lain kami menemukan sosok Peter Sheare yang ternyata sangat humble dan religius. Keduanya menganggap kalau scale up merupakan sebuah aspek yang fundamental dan bisa didapati dari produk-produk yang market fit.

FINAL VERDICT

Setelah seharian saya beradaptasi dengan pola pikir para pembuat startup, saya jadi sadar kalau ide startup saya banyak kurangnya dan kurang scalable. Butuh banyak kolaborasi dengan para startup lainnya agar proyek DBLR/TABAH (Tanggap Musibah) bisa berjalan dengan baik. Perlu berbagai orang dengan kapasitas yang berbeda-beda untuk menjalankan ide startup tersebut. Jalan yang ada di depan saya masih sangat panjang dan akan penuh dengan warna-warna yang menarik.

Selain mendapatkan gambaran dan pola pikir yang harus saya kuasai dan tanamkan, saya juga mendapatkan ide startup baru yang berangkat dari cara berpikir saya yang baru. Startup itu saya beri nama Food Gangstar (Food Gang Stasiun dan Rumahan). Startup ini akan berkutat pada hal yang paling sering kita temui sehari-hari, yaitu pedagang makanan kaki lima atau emperan. Kenapa mereka? Karena mereka adalah local wisdom setempat yang memiliki masalah yang tidak terlihat dua kali. Melalui startup tersebut, saya ingin menciptakan sebuah aplikasi untuk mereview makanan yang mereka sajikan. Nantinya melalui review-review tersebut, mereka akan mendapatkan audience dan awarness yang akan mengangkat bisnis mereka.

Dengan aplikasi saya, kita jadi tahu kalau ada makanan kaki lima yang sangat enak di luar daerah yang kita kenal. Contoh, di rumah saya ada Ketoprak yang sangat enak. Setiap harinya beliau berdagang hanya sampai jam 12.00 karena sangat laku dan ditunggu orang. Orang sekitar rumah saya pasti tahu Ketoprak tersebut,  tetapi saya yakin orang yang tinggal di daerah lain, tidak tahu tentang keberadaan Ketoprak tersebut.

11056102_10204683212188651_6069180661004238974_n-1

Sebenarnya sudah ada berbagai tempat atau situs yang memberikan fitur dan servis yang serupa, tetapi sayangnya mereka tidak mentarget warung/gerobak makanan kaki lima. Nantinya orang-orang yang memberikan review warung/gerobak kaki lima di sekitar rumahnya akan mendapatkan digital goods yang menunjukkan kontribusi mereka dan berbagai aspek lainnya. Digital goods tersebut akan semakin meningkat seiring dengan validasi kondisi warung/gerobak kaki lima yang mereka review. Akan ada sebuah metode (entah itu QR Code atau sejenisnya) yang bisa memancing konsumen lainnya untuk menulis review untuk pedagang kaki lima tersebut. Nantinya di aplikasi saya setiap review memiliki penghitungan nilai yang bisa dianggap sebagai data pengunjung yang datang ke warung kaki lima tersebut. Data tersebut bisa mereka pakai untuk mengajukan pinjaman lunak tanpa anggunan di bank-bank yang bekerjasama dengan aplikasi saya.

Mengapa saya bagi ide saya di blog ini? Karena seperti yang bro Yukka dan Indrasto bilang. Ide itu gampang dan murah, yang susah dan mahal itu eksekusinya. Selain itu saya juga jadi teringat ucapan Michael Jovan Sugianto CEO Tanihub, 9 Notion of Innovation dan Andreas Senjaya, siapa tahu saya dapat rekanan untuk mengembangkan startup ini.

Advertisements
This entry was published on September 8, 2016 at 3:10 am. It’s filed under Startup and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: